Perempuan Punya Anak, Anugerah Sekaligus Ujian

perempuan punya anak

Tidak bisa dipungkiri, banyak perempuan yang terpaksa terkekang secara materi dan karir, terutama semenjak punya anak.

Ada begitu banyak perempuan, yang sudah susah payah dibiayai bersekolah setinggi-tingginya. Pada mereka digantungkan harapan orang tua agar bisa jadi perempuan berdaya, ujung-ujungnya semua harapan tersebut, tinggallah harapan.


Banyak perempuan yang setelah menikah, khususnya setelah punya anak, terpaksa ‘menyimpan’ semua impiannya, khususnya ijazah dan kemampuannya dalam menghasilkan uang. Hanya karena memiliki anak dan bingung harus meninggalkan anak ketika harus bekerja di luar.

Perempuan-perempuan tersebut, terpaksa memilih jadi IRT, agar bisa menjaga, mengurus dan mengasuh anak-anaknya sendiri.

Sebenarnya, tak ada yang salah dengan pilihan para perempuan dalam menjadi ibu rumah tangga. Bahkan sesungguhnya menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah profesi yang sangat mulia dan jadi ujung tombak keberlangsungan masa depan negara ini.

Indonesia di masa mendatang butuh para generasi emas yang berkembang secara seimbang, baik psikis maupun mentalnya. Baik kemampuan akademiknya, maupun etika dan karakternya.

Dan saya sudah menyaksikan sendiri, sehebat apapun anak-anak, mereka tetap butuh lebih banyak waktu dan perhatian orang tuanya, baik ibu maupun ayah ibunya. Terutama dalam menjalani kesehariannya.

Anak-anak yang hidup dalam pendampingan ibu yang bisa menyediakan waktu dan perhatian lebih banyak dari sekadar uang, selalu lebih punya hal lebih dibanding anak-anak yang terbiasa mandiri karena sering ditinggal bekerja oleh kedua ortunya.

Disclaimer dulu ya!

Ini dalam pengalaman dan pengamatan saya ya, kalau ada yang berbeda dari kenyataan tulisan saya tersebut, ya karena saya pasti punya pengalaman dan pengamatan yang terbatas.

Intinya, sebenarnya menjadi ibu rumah tangga itu tak salah, sayangnya manusia butuh uang. Dan yang seharusnya kebutuhan itu disiapkan oleh seorang ayah, di sinilah permasalahan utamanya.

Ada begitu banyak ayah-ayah yang tidak bertanggung jawab dewasa ini. Dan ketika hal itu terjadi, adalah semacam mimpi teramat buruk yang menjadi nyata.

Jadi, tidak salah jika zaman sekarang, banyak perempuan yang tidak tenang dengan profesi ibu rumah tangga. Dan saya yang punya pengalaman buruk atas kasus penelantaran keluarga yang ngenes, tidak menyalahkan bahkan sangat memaklumi kondisi tersebut.

Tapi memang nggak ada jalan keluar yang terbaik sih, selain memohon agar Allah jauhkan kita dari lelaki tak punya harga diri yang seenaknya menelantarkan keluarganya.

Dan tentunya, dukungan penuh dari semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat agar pelaku penelantaran keluarga ditindak dengan tegas.

Karena dampak dari penelantaran ini sangat luar biasa, anak-anak tentu jadi korban. Orang tua perempuan yang menjadi korban pun ikut merasakan kepedihannya. Karena seringnya, anak-anak korban penelantaran ini akan menjadi tanggungan orang tua perempuan.

Kebayang kan bagaimana posisi orang tua perempuan?. Ketika anaknya menikah, wajib nurut sama suaminya, ikut suaminya dan mengutamakan suaminya dan keluarganya.

Giliran sudah malas menafkahi, seenaknya ‘menendang’ keluar kewajibannya, lalu hanya orang tua perempuan yang akan menerima si perempuan bersama anak-anaknya.

Kalau orang tua perempuan punya ekonomi yang mampu sih, masalah bisa diperkecil. Tapi jika tidak? Kebayang kan bagaimana posisi perempuan yang serba salah itu.

Semua ini bermula dari kondisi perempuan setelah menikah dan punya anak. Meski awalnya mungkin mempunyai seorang suami yang pengertian, tidak pernah melarang si perempuan untuk berkarir di luar. Tapi ketika anak-anak lahir, mulailah perempuan dihadapkan pada kondisi yang membingungkan.

Janganlah dahulu berpikir anak yang diasuh orang lain tidak sebaik asuhan ibunya atau orang tuanya. Bahkan untuk mencari orang atau daycare untuk menitipkan anak, tidaklah semudah dan semurah yang dibayangkan.

Belum lagi jika ditambah dengan kondisi was-was dengan sulitnya ‘berjodoh’ dengan pengasuh anak kita yang amanah.

Memang sih ada juga orang yang beruntung bisa menemukan pengasuh yang terbaik buat anaknya. Tapi hal ini sangat jarang, cuman ada seorang berbanding ratusan kali ya.

Beberapa perempuan juga beruntung, karena setelah punya anak, ada ibu atau ibu mertua yang mau membantu untuk menjaga anak-anaknya. Meski hal ini tentunya penuh dengan pro dan kontra yang luar biasa menerpa para perempuan, belum lagi masalah perbedaan parenting dari sang nenek dan ibunya. Namun, tidak bisa dipungkiri, ibu atau ibu mertua yang bisa dan mau turun tangan menjaga cucu adalah anugerah buat para perempuan.

Yang tak berjodoh dengan pengasuh anaknya, jadilah tak bisa punya pilihan lain selain menjadi ibu rumah tangga, meski sebenarnya pendidikan dan kemampuannya dalam berkarir di luar sangat mumpuni.


Cerita Menjadi Perempuan Punya Anak

Saya adalah salah satu perempuan yang tidak seberuntung itu dalam masalah menemukan pengasuh anak.

Ketika si Kakak masih bayi memang ada eyang putrinya yang bisa bantuin jagain, meskipun penuh drama. Tapi, setelahnya eyangnya sakit, dan hal ini menjadi salah satu alasan atau titik balik saya pertama kali menjadi ibu rumah tangga.

Ketika si Kakak berusia 4 tahun, saya bisa kembali berkarir di luar, dan si Kakak bisa saya ‘titipkan sementara’ di sebuah daycare yang ada di Sidoarjo.

Sayangnya hal ini hanya berlangsung setahun, setelahnya saya terpaksa kembali menjadi ibu rumah tangga, karena ternyata keputusan menitipkan si Kakak di daycare tersebut, mengakibatkan dia masuk RS dan di over diagnosa kena Virus Kawasaki, bahkan dikasih obat TB tanpa pemeriksaan lengkap.

Sejak saat itu, saya akhirnya kembali menjadi ibu rumah tangga hingga sekarang. Kalau ditanya bagaimana keadaan saya ketika menjadi ibu rumah tangga?. Sangat ‘nano-nano’!.

Sebenarnya, untuk keseharian sih masih normal saja, karena saya punya keahlian yang bisa digunakan untuk mencari uang dari rumah, jadi meski jadi ibu rumah tangga, saya tetap bisa punya ‘uang sendiri’.

Apalagi ketika awalnya, papinya anak-anak sangat bertanggung jawab.

Dia selalu memenuhi semua kebutuhan utama keluarga. Bayarin tempat tinggal, meski baru bisa mengontrak di pinggiran Sidoarjo saja.

Penuhi semua kebutuhan makanan sekeluarga, pendidikan anak.

Untuk kebutuhan lainnya, Alhamdulillah masih bisa dipenuhi dari hasil saya bekerja dari rumah dengan berbisnis Oriflame sampai akhirnya menjadi blogger dan konten kreator.

Masalah besar muncul setelah papinya anak-anak mulai tidak mau bertanggung jawab terhadap kebutuhan tersebut. Mulai dari cuek saja untuk masalah tempat tinggal kami.

Bayangkan, kami di Surabaya tak punya keluarga dekat selain keluarga papinya yang juga tak mau peduli dengan anak-anaknya.

Pun juga anak-anak sudah terlanjur bersekolah di wilayah yang harga kontrakan maupun kos luar biasa tinggi buat saya.

Saya yang tak punya pemasukan tetap dan cukup, sangat terguncang dan nyaris menyerah serta mengakhiri hidup saja rasanya.

Belum lagi memikirkan biaya kebutuhan hidup, makanan dan pendidikan anak.

Hanya bergantung dari pemasukan freelance seorang ibu rumah tangga yang bekerja dari rumah tanpa support sistem sama sekali itu, luar biasa sulit.

Begitulah tantangan para perempuan yang setelah punya anak memutuskan jadi ibu rumah tangga. Ada risiko besar kebingungan ketika ternyata berjodoh dengan lelaki yang tak punya harga diri dan seenaknya menelantarkan anak-anaknya.

Ujian besarnya di situ, dan saya hanyalah salah satu dari sekian banyak perempuan yag bernasib sama beda cerita dikit saja. Hal ini tentunya menjadi sebuah perasaan was-was bagi para orang tua yang mempunyai anak perempuan.

Sehingga wajar, banyak orang tua yang tidak setuju bahkan kecewa ketika anak perempuannya apalagi yang memang punya pendidikan tinggi yang dibiayai oleh orang tuanya dengan susah payah, serta punya kemampuan yang lebih untuk berkarir di luar serta ada kesempatan kerja, eh malah memilih jadi ibu rumah tangga dengan alasan anak.

Saya banyak mendengarkan keluhan orang tua tentang hal seperti ini. Hanya keluhan mama saya saja yang belum pernah saya dengarkan secara langsung, hahaha.

Tapi, dari cerita mama yang banyak menyayangkan anak-anak perempuan orang lain, yang sudah sekolah tinggi bahkan sudah berkarir. Eh setelah menikah dan punya anak malah memutuskan jadi ibu rumah tangga, saya tahu, ada kecewa di hati beliau dengan keputusan saya menjadi ibu rumah tangga.

Tapi begitulah nasib perempuan, mempunyai anak itu, ibarat anugerah dan ujian.

Anugerah, karena para perempuan yang tidak punya anakpun tak bisa hidup dengan bahagia dan tenang. Seolah ada yang kurang dari hidupnya.

Bahkan banyak perempuan yang terpaksa menjalani berbagai pengobatan dan terapi demi bisa dikaruniai buah hati. Banyak juga yang harus menahan sakit hati, ketika belum bisa punya anak, malah dituduh mandul oleh beberapa orang.

Padahal, bisa jadi penyebab dari belum dikaruniai anak adalah karena suami yang bermasalah. Tapi kebanyakan masyarakat tak mau memahami hal tersebut, selalu perempuan yang dikatakan ‘bermasalah’ ketika belum punya anak.

Giliran sudah punya anak, perempuan juga yang harus bertanggung jawab untuk semua keberlangsungan mental dan fisik anak.

Sehingga tak jarang, perempuan terpaksa menjadi ibu rumah tangga, lalu dibayangi oleh penelantaran dari lelaki yang tak bertggung jawab.

Begitulah.


Elweel, 13-02-2025

1 komentar :

  1. Aku tuh sempet ga mau punya anak, sbnrnya lebih karena takuuut ga bisa mendidik mereka dengan benar. Dan mungkin faktor orangtua, yg dulu mendidik kami ala militer, jadi ya bikin aku ga tertarik punya anak. Dalam pikiran, kayaknya repooot banget ada anak itu

    Pada akhirnya tetap punya anak, tp setelah dijanjikan babysitter yg akan pegang full mereka. Bersyukurnya aku memang dpt babysitter yg sangat loyal dan keibuan. Mungkin kalo ga ada si Mpok, anak2ku bakal tumbuh liar kali.

    Berkat Mpok lah mereka JD anak penurut dan baik.

    Krn tau pasti, aku ga bakal bisa mendidik mereka sesabar itu 😔

    Setuju sih, wanita yg punya anak, sebaiknya ada support dari kluarga dan suami yg paling utama. Krn pasti ga mudah utk merawat anak sendirian dan tanpa support 😔

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)