Beberapa hari lalu, saya mengobrol dengan salah satu teman lama, dan dia lama terdiam, speechless mendengar cerita saya.
Fyi, saya adalah tipe orang yang lebih suka mendengarkan ketika ngobrol sama siapa saja. Eh tepatnya bukan 'suka mendengarkan' sih, tapi lebih suka mengalah untuk mendengarkan terutama jika lawan bicara lebih suka berbicara ketimbang mendengarkan.
Karena itulah saya jarang menceritakan masalah pribadi saya kepada orang secara langsung. Bukan karena nggak butuh telinga sih, tapi karena... ya itu tadi, lebih suka mengalah dan mendengar, selain memang saya udah puas bercerita lewat tulisan.
Tapi emang sih ya, bercerita lewat tulisan itu, tidak se'dalam makna'nya ketika kita bercerita langsung kepada orang lain. Mungkin karena obrolan yang ada hanyalah satu arah, bisa 2 arah lewat komentar tapi kan nggak bisa langsung dijawab saat itu juga.
Jadi, ketika kemaren bercerita dengan teman tentang bagaimana perjuangan saya di Surabaya sejak Agustus 2024 lalu, terutama di puncak kondisi ter'down' saya, di bulan Oktober 2024. Sampai saat ini pun, membuat si teman tersebut tertegun dan speechless banget.
Yang bikin si teman saya kehilangan kata-kata itu, karena sampai detik ini, papinya anak-anak sama sekali nggak mau menghubungi anak-anaknya. Teman saya bertanya, gimana dengan keluarganya?.
Ya pegimana dengan keluarganya? di Oktober 2024 lalu, saya hampir mengakhiri hidup saking bingung banget harus tinggal di mana? beli makan buat anak-anak pakai apa?. Dan kondisi itu saya kabarkan lewat medsos, karena saya nggak bisa menghubungi keluarga papinya.
Dan coba tebak apa yang mereka lakukan?.
Nothing, hehehe.
Pun juga, pada akhirnya kami dapat tempat tinggal di sebuah gang yang nggak jauh dari rumah keluarganya. Tapi sedikitpun tak ada yang mau peduli nasib anak-anak saya.
Saya sih, nggak dihiraukan, nggak masalah.
Toh mungkin mereka anggap saya orang lain kan?.
Meski kesal dan ngenes, tapi tak akan saya pikirkan menjadi masalah besar, karena meski menjadi ibu rumah tangga, dan terbuang dari keluarga kandung sendiri karena memilih ikut suami yang sama sekali nggak ada respek dan silaturahmi dengan orang tua saya. Tapi, insya Allah saya masih bisa menghidupi diri sendiri.
Tapi, untuk menghidupi anak-anak juga, tanpa tempat tinggal dan tanpa aset yang bisa dijual sebagai modal sama sekali. Sungguh adalah sebuah hal yang luar biasa bikin saya bingung.
Namun meski demikian, tak ada kabar sama sekali dari keluarganya. Atau sekadar bersedekah lah, biar anak-anak saya bisa makan dan bertahan hidup.
Enggak sama sekali.
Papinya?, sama sekali nggak merasa bersalah. Bahkan di bulan Oktober 2024 kemaren, dia sengaja memblokir nomor HP kami semua, lalu di saat kami kebingungan mau tinggal di mana karena udah mau diusir dari kontrakan lantaran nggak bisa bayar lagi. Eh tahu nggak papinya ngapain?.
Dia liburan ke Bali dong!.
Ke tempat-tempat wisata yang mainstream, tak lupa foto-foto dan ambil video lalu upload di akun TikToknya @p2pid2u
Ketika itu, saya dan anak-anak berusaha keras mencari dan menuntut tanggung jawabnya secara langsung. Nomor WA dan HP kami diblokir, saya cari ke media sosial.
Dari bercerita di media sosial, saya akhirnya menemukan salah satu jalan keluar, yaitu melaporkan kasus penelantaran secara sengaja ke UPTD PPA Surabaya.
Dan karena didesak UPTD PPA Surabaya, papinya anak-anak akhirnya mau membuka blokir ke anaknya, dan memberikan uang, meskipun hanya sedikit, bahkan tak cukup untuk bayar kontrakan.
Karena sikapnya yang makin seenaknya, lepas tangan masalah kebutuhan anak-anak dengan sengaja. Akhirnya saya laporkan kasus penelantaran keluarga dan KDRT Psikis ke Polrestabes Surabaya.
Sayangnya, entah mungkin karena saya nggak bayar *eh, atau mungkin alasan lain, kasusnya sangat lamban berjalan dan mangkrak sampai detik ini, hahaha.
Akhir-akhir ini, bahkan anak-anak sudah malas menghubungi dia, si Kakak bahkan sampai nangis-nangis bertahan nggak mau menghubungi papinya sama sekali.
Entahlah terlalu dalam luka yang dia rasakan, atau mungkin sudah merasa nyaman nggak perlu mengemis haknya kepada lelaki yang tak punya harga diri seperti itu. Yang jelas, entah karena anak-anak nggak pernah lagi menghubungi dia, sampai detik ini, bahkan di bulan ramadan ini, sedikitpun tidak tergerak hatinya untuk mau menanyakan kabar anak-anaknya.
Di bulan ramadan loh, bulan penuh ampunan, tapi bisa-bisanya dia tak tergerak sedikitpun untuk menanyakan kabar anaknya. Toh nggak perlu melalui saya, langsung ke anak-anak aja yang punya nomor WA dan selalu aktif itu.
Yang bikin speechless ya salah satunya itu, bahkan banyak teman-teman lelaki saya, yang ketika sudah menikah dan punya anakpun masih 'bandel', tapi kesemuanya masih ingat anak, setidaknya menjalin komunikasi dengan anak.
Sementara itu, beberapa teman selalu mengirimkan saya tangkapan layar akun Tiktoknya @p2pid2u dan terlihat jelas di sana, bagaimana santainya dia menikmati hidupnya saat ini, nggak peduli lagi sama anak-anaknya. Nggak punya beban lagi harus menafkahi anaknya.
Mungkin teman-teman akan bilang, ya sudahlah ya, rezeki dari Allah bukan dari manusia tak punya harga diri kayak gitu.
Oh tidak, saya sangat yakin rezeki dari Allah, tapi ini masalah tanggung jawab dia dan harga diri saya beserta keluarga.
Saya akan terus melawan penelantaran ini, akan terus speak up tentang ini.
Meskipun saya tidak bisa selalu bercerita langsung kepada siapapun. Hanya beberapa orang yang mau mendengarkan dengan seksama yang menerima cerita saya langsung. Dan terbukti, betapa speechless-nya mereka mendengarkan cerita ini.
Karena buat saya ini bukan penelantaran biasa, tapi perlakuan kurang ajar dan kejahatan yang disengaja.
Di saat orang lain ditelantarkan saat punya modal, ada rumah atau setidaknya ada tempat pulang. Saya ditelantarkan begitu saja, tanpa tempat tinggal, aset maupun keluarga untuk pulang.
Ibaratnya saya dilepas begitu saja di tengah lautan bersama anak-anak.
Itulah yang bikin saya merasa harus terus speak up tentang ini. Meski beberapa orang terang-terangan mencibir, menanyakan apa untungnya di hidup saya dan anak-anak?.
Tentu saja ada untungnya, salah satunya anak-anak melihat bagaimana perjuangan maminya membela hak mereka yang dicampakan ayahnya.
Dan tentunya membela harga diri keluarga saya.
Seenaknya ditelantarkan begitu saja di dekat keluarganya, padahal dulu kami nikah baik-baik. Ortu saya juga tidak memberatkan mereka akan pernikahan kami.
Menerima biaya yang diberikan mereka meski nggak sesuai dengan adat yang berlaku di daerah ortu saya. Bahkan ortu saya yang membelikan keluarganya tiket transportasi dari rumah ortu.
Selama menikah, ortu yang tak pernah dihargai oleh lelaki itu, apalagi keluarganya, juga sering membantu kami. Beberapa kali bisa mudik pun dibiayai oleh ortu saya.
Dan lalu dengan seenaknya dia dan keluarganya menelantarkan saya begitu saja yang tinggal di dekat mereka demi anggapan, 'perempuan setelah menikah wajib ikut suami dan keluarga suami!'.
Tidak!.
Akan saya perjuangkan harga diri orang keluarga, khususnya ortu saya, dengan terus speak up masalah penelantaran ini, dan tak kenal lelah membawa hal ini di ranah hukum.
Jadi begitulah....
Mengapa saya melakukan banyak hal?, bercerita di medsos, lapor UPTD PPA dan polrestabes Surabaya?. Ya karena kelakuan kurang ajar dan tidak bertanggung jawab lelaki itu, bikin speechless.
Elweel, 09-03-2025
koreksi dikit doang speechless bukan spechless alias tidak bisa berkata apa-apa.
BalasHapusMencibir sih tidak, hanya menanyakan, apakah Rey sadar bahwa ada opsi lain yang bisa ditempuh? Ada opsi lain yang mungkin bisa merupakan jalan keluar, kenapa tidak dilihat dan dipertimbangkan.
Pertanyaannya, betulkan bahwa anak-anak tahu "perjuangan" maminya baik? Apakah tidak mungkin mereka melihat ego maminya yang terus "berjuang" mengejar sesuatu yang tidak jelas daripada memutuskan sesuatu yang mungkin bisa menjadi solusi dibandingkan fokus pada mereka?
Ada banyak tanda tanya disini.
Speechless sendiri bisa diinterpretasikan sebagai tidak bisa berkomentar apa-apa ==> alasannya karena bingung mau komentar apa, merasa takjub sehingga tidak bisa ngomong apa-apa, karena tidak mau ikut campur urusan rumah tangga orang lain..==> ada banyak alasan untuk seseorang speecless.
Saya sendiri "speechless" juga, tetapi lebih pada karena Rey seperti menutup mata pada opsi yang Rey mau saja.. Dengan berbagai pembenaran seperti demi anak-anak, demi ini dan itu..
Reaksi Rey dalam hal ini sama dengan ketika banyak kawan kawan Rey menyuruh "berpisah", tetapi Rey yang denial dan justru menyalahkan yang memberi saran. Rey lebih suka mencibir kepada pemberi saran dan yang bertanya. Rey hanya akan memberi reaksi positif kepada mereka yang mendukung pandangan Rey... Padahal saran yang masuk banyak yang masuk akal..
Ehh.. eniwe... itu hidup Rey sih..
Saya mah cuma bis abilang :-D :-D wake up Rey... wake up.. :-P