Hari ini seharian saya meringis, ngomel dan hampir nangis. Gara-garanya saya harus mencuci pakaian, membersihkan kulkas, hingga bikin kue pisang yang udah terlalu matang.
Sebenarnya sederhana sih ya, tapi masalahnya badan saya lagi nggak nyaman, sakit banget di sekujur tubuh, khususnya di bagian seluruh tulang iga. Sepertinya efek jatuh dari motor kemarin mulai terasa banget.
Ternyata Jatuh Dari Motor itu, Begini Rasanya
Jadi ceritanya kemarin tuh saya bonceng mama untuk ke rumah sakit buat kontrol bulanan. Sebagai lansia, mama saya memang sangat rajin kontrol setiap bulanan ke dokter.
Jangankan kontrol bulanan ya, bahkan mama saya rutin cek tensinya sehari 2 kali.
Sekilas terasa berlebihan sih, jadi parno sendiri ketika mengetahui tensinya kok masih tinggi. Tapi di samping itu, ada manfaat positifnya, yaitu mama saya jadi patuh terhadap semua larangan dan pantangan khususnya makanan.
Termasuk kontrol ke dokter juga.
Nah, sebelumnya mama tuh ke RS naik angkutan.
Btw, jangan bayangin angkutannya ini kayak angkot yang ngetem gitu ya, angkutannya nyaman kok, mobil sejenis Avanza dengan penumpang yang tak perlu terlalu dempet-dempet.
Tapi memang sih, karena mama ke RS yang jauh, jadinya ongkosnya mahal. Makanya mama meminta saya nganterin beliau saja, dengan mengendarai motor.
Ya udah lah ya, mumpung si Adik juga bisa izin sekolah, dan bertepatan dia habis sakit. Ya udah sekalian kita anter nenek ke RS aja.
Tapi sayangnya, Kamis kemarin hujan turun sejak subuh, bahkan malampun sempat hujan.
Ketika berangkat, cuaca masih sangat mendung, dan baru aja mulai jalan, eh gerimis turun. Sayapun berhenti dan mengenakan mantel hujan. Dan mama yang malas pakai mantel demikian, saya minta untuk masuk ke dalam mantel saya, biar nggak basah.
Setelahnya saya mulai melajukan motor.
Jalanan memang terasa licin, beberapa kali saya merasakan ban motor, khususnya yang depan agak goyang, terutama ketika menginjak marka yang memang masih baru.
Tapi Alhamdulillah semua aman, saya hanya berani ngebut sedikit jika jalanan lurus dan benar-benar sepi. Dan benar-benar melambat ketika belokan, apalagi jika belok kanan, karena saya memang agak sulit belok kanan, apalagi dalam kondisi jalanan licin.
Jadi, semua aman dan terkendali, sampai tiba di jalanan yang menurun dan belok kanan tajam. Karena saya selalu kesulitan untuk belok kanan, jadinya sejak jauh saya beneran fokus di rem tangan dan kaki.
Namun tiba-tiba, motor terasa ada yang narik ke samping di bagian roda depan, lalu tanpa aba-aba saya merasakan tubuh terhempas ke samping kanan.
"Aaaaaaaaaaaahhhhh!"
Gubrak!
Saya mendengar sayup-sayup suara sendiri menghilang, mata terasa gelap dan kantuk tiba-tiba menyerang. Saya ingin tidur dan tak bisa gerak, sampai samar-samar mendengar suara,
"Tidak apa-apa, Nak?" berulang kali.
Ditambah suara tangisan si Adik yang kayaknya kejepit di belakang saya (btw si Adik pakai terikat di badan saya pakai sabuk bonceng).
Seketika saya paksa kesadaran kembali, karena teringat,
"Ya ampuuunnn, mama nggak pakai helm, si Adik juga"
Rasa khawatir yang besar membuat saya memaksa sekuat tenaga agar kesadaran kembali, tapi sayang saya nggak bisa bangun, kaki saya kejepit motor.
Untungnya ada orang lewat dan segera membantu saya menarik motor dan menepikannya. Sayapun langsung berusaha melepaskan sabuk bonceng sehingga si Adik bisa lepas dari punggung saya. Lalu bangun dan oleng kek orang mabuk, hiks.
Syukurlah si Adik nggak kenapa-kenapa, Alhamdulillah wasyukurillah.
Sepertinya dia menghantam punggung saya dahulu, sehingga kepalanya nggak kena aspal. Kakinya pun meski kejepit motor, tapi nggak kenapa-kenapa.
Eh btw apa body motor memang didisain agar ketika terjatuh, tidak lantas mencederai kaki pengendara kali ya?.
Sementara mama yang paling mengkhawatirkan, karena blio nggak pakai helm, dan beliau terlempar dari motor.
Kepala mama benjol, jarinya lecet, sepertinya mama terlempar tapi reflek melindungi kepalanya, jadi nggak terlalu parah menyentuh aspal. Tapi lumayan benjol juga.
Berkali-kali saya tanya, apakah mama pusing, sementara sebenarnya sayalah yang sangat pusing dan berkunang-kunang.
Mama bilang, nggak apa-apa, nggak pusing, dan menanyakan kondisi saya, apakah baik-baik saja dan bisa kembali meneruskan perjalanan.
Setelah dirasa cukup dan saya juga takut mama kenapa-kenapa karena kepalanya benjol, akhirnya saya putuskan segera meneruskan perjalanan.
Efek yang Dirasakan Setelah Jatuh Dari Motor
Belum lama berjalan, si Adik teriak-teriak, eh ternyata dia haus. Dan karena memang dia nggak puasa, akhirnya kami menepi untuk membeli air mineral di warung yang ada di pinggiran jalan.
Ketika mama masih menunggu di warung, saya sempatkan mengabari kakak tentang kondisi kami. Tak lama kemudian kami meneruskan perjalanan, dan mama minta mampir dulu ke rumah kakak, karena memang masih terlalu pagi, jadwal kontrolnya agak siangan.
Baru saja sampai di depan rumah kakak saya, pas banget kakak dan suaminya juga baru datang dari kantor masing-masing.
Mereka terlihat khawatir banget, apalagi ketika saya kabari tentang kepala mama yang benjol.
Nyatanya? mama terlihat baik-baik saja, sibuk mengompres benjol di kepalanya dengan ujung rambutnya yang ditiup biar hangat, hehehe.
Sementara si Rey?.
Ya nangis laaahhh, hahahaha.
Apalagi setelah tahu kondisi saya ketika lepas jilbab dan lainnya.
Ternyata kepala bagian samping telinga kanan saya, benjol banget. Bahkan ada garis luka yang sepertinya kena pinggiran helm.
Sebenarnya helm saya yang abal-abal itu nggak rusak sama sekali, cuman terlihat ada gesekan aspal. Tapi karena busanya kurang tebal keknya ya, jadinya kepala benjol juga kebentur helmnya, bukan aspal.
Sementara posisi jatuh saya adalah badan bagian kanan, baik kepala menghantam helm dan benjol, lalu ternyata lengan atas kanan saya lecet serta lebam, dan lutut bagian kanan lebam parah dan ada luka lecet juga.
Tapi anehnya, badan yang penuh lebam dan luka gesek itu nggak kerasa sakit sama sekali, bahkan saya menyadari ada lebam dan lecet di beberapa bagian itu setelah beberapa jam setelah kecelakaan.
Yang paling parah itu adalah bagian tulang iga kanan depan, dan bagian dalam tubuh. Rasanya sakit banget, nggak bisa batuk, nggak bisa ketawa atau bersuara yang mengeluarkan tenaga banget. Sakitnyaaaa minta ampun.
Dibikin istrahat tiduran, yang ada malah makin sakit dan kaku.
Alhasil saya paksa bangun lagi, meski sakitnya minta ampun, apalagi kakak saya malah ngajak bebelian beberapa hal yang kami butuhkan.
Jadilah saya putuskan untuk batalin puasa demi minum obat asam mefenamat buat mengurangi nyeri dan beberapa obat lainnya untuk mengurangi bengkak dan otot yang sakit.
Hingga hari ini, 2 hari setelah kejadian, badan masih terasa sangat sakit, terutama di bagian sekujur tulang iga, termasuk di bagian dalam tubuh.
Nggak bisa angkat tangan dengan nyaman, belum bisa berdiri dan duduk tiba-tiba, semua harus serba pelan. Nggak boleh tidur atau duduk kelamaan, karena pas balikin badan, masya Allah sakitnya.
Pesan penting dari kejadian saya jatuh dari motor adalah, berhati-hati selalu, pakai helm SNI ketika mengendarai motor, gunakan sabuk bonceng jika membonceng anak.
Dan yang paling penting juga untuk berhati-hati menggunakan rem depan motor khususnya saat jalanan licin dan basah apalagi posisi jalan di penurunan.
Jatuh dari motor itu, meski Alhamdulillah nggak luka parah, dan kesemua kami masih diselamatkan, tapi tetep aja, sakitnyaaaa minta ampun, mana lama pulak sembuhnya.
Elweel, 22-03-2025
Wooaah.. turut berduka deh... soalnya saya tahu sendiri gimana sakitnya jatuh dari motor. Maklum sudah mengalami itu.... hahahaha.. dulu sampai dikhawatirkan gegar otak. Dulu soalnya saya pernah selama hampir 2 tahun, pulang pergi naik motor sejauh 50 Km sekali jalan (PP 100 KM).
BalasHapusNah, pas pulang pernah kecapean (dan darah terlalu rendah cuma 90/60 hahahaha), saya nabrak orang berbaju hitam di malam hari .. hahaha yg ditabrak cuma lecet (dan biaya saya urus).. sedang saya sendiri terkapar karena "terbang" di jalanan
Hasilnya selama beberapa hari terkapar karena badan sakit semua.. untungnya waktu itu pakai helm SNI, jadi kepala aman, tetapi badan tidak.. wkwkwkw
Hati hati rey.. biasakan semua pakai helm yah... biar jarak dekat sekalipun..
Ya Allah Bapak! Saya kemaren tuh bisa dibilang semacam jatuh karena motor sedang diam aja, pelan banget.
HapusTapi efek yang dirasakan luar biasa banget.
Bener banget Bapak, setidaknya kepala terlindungi ya, karena itu yang paling menakutkan