Jadi beberapa hari lalu si Adik tuh sakit, demam tinggi sampai mendekati 40an selama 2 harian nggak mereda. Dan selama itu saya standby di sampingnya, khawatir, menenangkan si Adik dan juga diri sendiri.
Dan akhirnya mama saya melihat langsung, bagaimana kondisinya kalau anak-anak sakit. Dan sepertinya blio akhirnya paham, mengapa saya memilih jadi IRT meski sangat terpaksa.
Ketika Dunia Menyalahkan Diri Saya Memilih Jadi IRT
Kalau ada yang ngeh, akhir-akhir ini sering banget saya menemukan tulisan opini, bahwa bagaimana pun keadaannya, perempuan wajib bekerja atau punya penghasilan.
Entahlah mungkin karena saya memang tak menyerah menyuarakan anti penelantaran keluarga. Dan sering mendapat tanggapan remeh dan sinis, baik dari laki-laki maupun perempuan.
Perempuan, seringnya menyalahkan saya yang nggak mau move on, tetap berharap pada laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu. Padahal sudah berkali-kali saya tekankan bahwa, SAYA TIDAK BERHARAP, SAYA MENUNTUT HAK ANAK-ANAK SAYA!.
Sementara laki-laki seringnya menyalahkan saya, katanya makanya perempuan itu wajib bekerja atau punya penghasilan.
Padahal ya, sebelum tuh laki yang asal ngebacot demikian, padahal saya yakin 2000% kalau dia ada di posisi saya, keknya dia udah bunuh diri dari lama *ups maapkeun. Saya punya penghasilan kok, saya korbankan waktu tidur agar bisa punya penghasilan.
Saya sangat mandiri sebagai wanita, sangat bisa menghidupi diri sendiri, tapi sebagai ibu 2 anak tanpa rumah, tanpa aset, tanpa modal apapun, moon maap, akoh belom bisa.
Coba hitung sendiri, berapa biaya hidup 2 anak, ya tempat tinggal di Surabaya, even kos paling murah aja tetep mihil. Belum lagi biaya makan, listrik, air, biaya sekolah, dll.
Sementara saya hanya bisa menghasilkan uang dari ngeblog atau sesekali terima job konten di instagram. Itu cuman cukup buat biaya hidup sendiri, kalau untuk ditambah 2 anak, belom.
Dan moon maap, contohin deh, pegimana caranya kerja cari uang cukup untuk biaya hidup kami bertiga sendirian, sambil tetap urus anak loh ya. Karena anak masih butuh maknya.
Tapi, sejenak lupakan hal itu, saya ingin membahas bagaimana dunia menyalahkan saya atas kondisi yang terpaksa saya ambil ini.
Bukan hanya orang luar, keluarga saya pun menyalahkan saya, menganggap saya belagu nggak mau kerja jadi PNS, maunya kerja di swasta demi gaji besar. Meremehkan PNS yang gajinya kecil.
Padahal, udah berkali-kali saya jelasin, saya nggak alergi sama PNS, dan terbukti kok ketika lulus kuliah dulu, ada kali 5 tahunan berturut-turut saya ikut test CPNS di Surabaya. Tapi emang bukan jodoh rezekinya di sana, jadinya nggak lulus.
Keluarga saya menyalahkan saya, karena nggak jadi PNS yang bisa sering izin ketika ada keperluan (padahal di swasta pun dulu, saya bisa izin kok, atasan saya membolehkan, tapi sayanya aja yang nggak enak dan merasa sangat terbebani).
Alasan mereka menyalahkan saya lainnya adalah karena saya terlalu memanjakan anak. Menurut mereka, semua anak yang ibunya bekerja juga pernah sakit, dan ya udah sakit ya diobatin, nggak perlu harus ditungguin 24 jam.
Btw, semua penyalahan tersebut tak pernah dikatakan oleh keluarga saya ke saya secara blak-blakan ya. Biasanya melalui keceplosan sekalimat dua kalimat. Yang cukup nyes di hati.
Ketika Si Adik Sakit di Depan Neneknya dan Kenyataan Anak-Anak Sakit
Sampai akhirnya perdana si Adik sakit di depan mata neneknya, demam tinggi si atas 39 derajat tanpa turun sama sekali. Saya kasih pereda panas hanya turun 38 sekitar 15 menitan, habis itu naik lagi.
Bukan main pusingnya, si Adik rewel karena mual, muntah-muntah juga. Mau makan sih, tapi abis itu mual, saya harus menjaga luar biasa agar obat yang diminum nggak langsung dimuntahkan.
Mama sampai ikutan bingung, mau ke puskesmas ya percuma, obat yang saya berikan sama aja kayak obat yang biasa diberikan di puskesmas.
Kakak saya nyaranin kasih antibiotik, dan terpaksa saya ikutin karena demamnya nggak turun-turun. Dan 2 hari paska minum AB, alhamdulillah demamnya berangsur turun dan mualnya mulai terkendalikan.
Ketika saya udah bisa sedikit bersantai ikut makan setelah buka puasa, mama membuka pembicaraan.
"Ternyata anak-anakmu kalau sakit agak repot ya!"
Saya cuman tersenyum kecut,
"Si Adik mah masih mending, Ma! dulu si Kakak langganan sakit begitu bahkan lebih parah setiap 2 minggu sekali! saya baru bisa sedikit lega ketika dia berusia 6 tahunan ke atas dan saya fokus menjaga kesehatannya!"
Yup, throwback ketika si Kakak berusia di bawah 6 tahun, masya Allah sekaleeeeee urusnya.
Jangankan ketika saya titipkan dia di daycare Sidoarjo ya, bahkan ketika sebelum saya kembali ngantor, saya sendiri yang urusin, masya Allah sekali kami harus langganan dokter spesialis anak terbaik minimal banget tuh sebulan sekali.
Kadang juga belum cukup sebulan udah balik lagi ke dokter. Habis dah uang cuman buat nabung di dokter anak.
Apalagi setelah saya kembali ngantor dan dititipin di daycare, ujungnya dia sampai harus rawat inap di RS dan di over diagnosa sama profesor dokter anak. Bahkan sampai harus minum obat TB tanpa dikasih keterangan ke saya, bahwa itu obat TB (waddddddefaaaaakkkk itu profesor abal-abal *i call him abal-abal karena luar biasa banget caranya!).
Dan hasil dari semua kesal dan rempongnya saya ketika anak-anak sakit di masa mereka kecil, akhirnya saya putuskan untuk berhenti bermain dengan kesehatan anak, dan akhirnya saya pilih di rumah mengurus anak sendiri.
Terbukti, setelah saya yang telaten dan fokus mengurus kesehatan anak, kesehatan anak jadi lebih membaik. Jadi, bukan karena si Kakak setelah 6 tahun sudah semakin kuat daya tahan tubuhnya, makanya dia jarang sakit lagi.
Bukaaaann, sayalah yang jungkir balik sejak kecil mengatur jadwal hidupnya, agar si Kakak terpenuhi semua kebutuhan nutrisi, istrahatnya, tanpa melewatkan hal lain.
Misal, hal-hal kecil kayak membiasakan dia puasa sejak kecil, tapi meski puasa dia tetap fit, nggak sakit, dan nggak terlalu kurus.
Gimana caranya?
Ya udah saya atur jadwal tidurnya, jadwal bangunnya, harus minum cukup meski ini menantang banget, harus makan cukup, nggak makan takjil doang.
Dan percayalah, semua itu nggak terjadi begitu saja, butuh perjuangan luar biasa, melawan rasa kesal ketika anak nggak bangun-bangun saat dibangunkan sahur, ketika anak nggak mau minum yang cukup. Ketika anak jadi ngambek dan marah ketika dipaksa minum, dan lainnya.
Atau ketika anak harus mengurangi jajan yang bikin tenggorokannya atau pencernaannya bermasalah. Lalu akhirnya anak ngambek dan kesal karena saya kebanyakan aturan.
Dan semacamnya.
Semua hal yang saya lakukan yang mungkin terlihat menyebalkan buat anak maupun orang yang 'cuman liat' doang. Itulah yang bikin anak enggak mudah sakit, dan kami bisa melupakan pengeluaran bayar dokter anak setiap sebulan sekali bahkan 2-3 minggu sekali.
Jadi gitu ya, saya juga tak mau jadi IRT.
Sedikitpun tak pernah saya bayangkan mau jadi IRT.
Karena biar kata semua bilang IRT itu mulia, kenyataannya IRT itu bukan saya banget.
Saya pengennya berkarir di luar rumah, bisa dandan tiap hari, sibuk dengan hal-hal yang menyangkut kepentingan orang banyak, lalu menikmati gajian atau bonus-bonus yang bikin happy.
Dan yang paling penting, menjadi wanita karir itu bikin saya merasa diterima di keluarga sendiri, karena emang mama saya wanita karir, kakak saya juga.
Ah bukan masalah karirnya saja sih, tapi penghasilannya juga.
Tapi....
Gimana dong, saya udah dikasih amanah 2 anak yang nggak bisa didelegasikan ke siapapun, bahkan ke ayahnya mereka sendiri.
Sejak menikah ayahnya anak-anak malah lebih suka bekerja jauh dari keluarga, dan mau nggak mau anak ya nggak mungkin lah ikut bapakeh.
Jadi karena anak nggak bisa saya balikin ke perut lagi, dan anak-anak terlahir dengan kondisi yang tidak seperti anak lainnya, yang ketika sakit cukup tiduran sendiri aja di rumah.
Anak-anak saya sangat butuh saya ketika sakit, dan saya nggak mau ngambil risiko anak sampai kenapa-kenapa dengan membiarkan mereka tidur sendiri saat sakit, padahal sebenarnya butuh saya banget.
Anak-anak juga butuh saya untuk memanajemen hidup mereka agar tetap sehat dan bahagia.
Karena mereka adalah manusia yang nggak bisa dibiarkan begitu saja setelah Allah kasih ke saya sementara.
Begitulah.
Elweel, 23-03-2025
Nggak saya ga akan menyalahkan dikau memilih jadi IRT. Bagi saya, tidak ada kata wajib, harus yah.. biar pun banyak yang bilang perempuan wajib punya penghasilan sendiri, saya mah bilang ga lah.. eta mah keputusan masing-masing berdasarkan situasi kondisi masing-masing saja.
BalasHapusJadi kalau itu keputusanmu yah silakan.
Soal move on dari suami, tetep saya mah bilang =+> emang ada gunanya tereak tereak soal penelantaran keluarga tanpa hasil? hahaha.. tetep saya akan bilang gitu. Dikau mau teriak gimana juga, hasilnya nol dan sudah berlangsung lama. Dah gitu ga jelas ujungnya...
Mau terus gini Rey.. wake up sis.. wake up.. Dikau mau ngapain, apa yang dikau kejar? Apakah cukup dengan pemuasan ego bahwa dikau "sudah berjuang" menentang penelantaran anak?
Kalau dikau merasa cukup.. yo wis.. tapi wat saya sih itu mah tetap saja sebuah kesia siaan dan pembuangan waktu. Kalau baru sebulan dua bulan, namanya masih usaha, tetapi kalau sudah bertahun tahun... Itu namanya dikau yang ga mau terima fakta dan ga bisa move on.. wkwkwkwk
Maaf ya.. saya tetap bilang begitu.. Move on dan berani ambil langkah.. Jangan cari pembenaran... wkwkwkw
#kabur
semangat selalu kak, semoga kakak dan keluarga selalu diberi kesehatan dan ketentraman ya :D
BalasHapus